Categories: Review Game

Soulframe Preview: Bukan Warframe, Bukan Juga Soulslike—Layak Dicoba Sekarang?

wefelltoearth.com – Soulframe mulai ramai dibicarakan sebagai proyek ambisius terbaru dari Digital Extremes. Studio yang identik dengan aksi futuristik Warframe ini mendadak banting setir menuju fantasi abad pertengahan bernuansa gelap. Banyak yang langsung menempelkan label “Soulslike” pada Soulframe, padahal kesan pertama justru menunjukkan sesuatu yang lebih pelan, lebih metodis, sekaligus lebih eksperimental. Di titik ini, pertanyaan paling penting muncul: apakah Soulframe sudah cukup menarik untuk dicoba sejak awal pengembangannya?

Menariknya, Soulframe tidak sekadar mengganti senapan laser dengan pedang besar lalu menyuntikkan sistem stamina. Pendekatan permainannya terasa cukup berani. Tempo lebih lambat, pertarungan lebih berat, eksplorasi lebih atmosferik. Identitas Warframe masih terasa melalui desain faksi, gaya animasi, serta fokus pada permainan kooperatif. Namun Soulframe terlihat mengejar nuansa lain: sebuah dunia fantasi yang hidup, misterius, juga sarat simbolisme alam. Kombinasi itu membuat Soulframe sulit dikotakkan, namun justru menghadirkan rasa penasaran kuat.

Apa Sebenarnya Soulframe Itu?

Soulframe adalah permainan aksi RPG fantasi dengan fokus jarak dekat, eksplorasi, juga kerja sama daring. Lingkungan utamanya berupa daratan luas penuh reruntuhan kuno, hutan berkabut, hingga gua organik bernuansa surealis. Tidak ada pesawat luar angkasa, tidak ada teknologi canggih, namun roh Warframe masih mengalir melalui cara dunia ini dibangun. Soulframe mencoba menyatukan elemen open world, ruang bawah tanah prosedural, serta sistem hubungan dengan makhluk spiritual.

Soulframe menonjolkan hubungan antara manusia, alam, serta entitas gaib yang menghuninya. Pemain berperan sebagai Envoy, sosok pejuang yang terikat pakta dengan roh hewan penjaga. Roh tersebut bukan sekadar kosmetik. Ia memengaruhi kemampuan, gaya bertarung, sekaligus cara Anda berinteraksi dengan lingkungan. Fokus Soulframe bukan hanya menebas musuh, tetapi juga merawat ikatan dengan kekuatan alam yang dilukiskan sebagai lawan utama peradaban industri yang rakus.

Dari sisi struktur, Soulframe tampak memadukan area hub semi terbuka dengan misi yang mengantar pemain masuk ke zona instansiasi. Mirip Warframe, tetapi alurnya lebih lambat serta berbasis perjalanan darat. Sistem progresi masih terus dipoles, namun terlihat adanya penekanan kuat pada eksperimen senjata, aspek magis, juga peningkatan hubungan dengan roh. Pendekatan itu memberi harapan bahwa Soulframe punya kedalaman jangka panjang, sekaligus menjaga ciri khas “grind” yang disenangi penggemar Warframe, hanya kali ini dibungkus tema fantasi gelap.

Apakah Soulframe Benar-Benar Soulslike?

Banyak orang buru-buru mengaitkan Soulframe dengan label Soulslike hanya karena sudut pandang kamera mendekati bahu, musuh keras, serta gerak karakter terasa berat. Namun Soulslike bukan sekadar soal tingkat kesulitan tinggi. Ia juga menyangkut desain level saling terhubung, sistem bonfire, konsekuensi kematian, hingga cara cerita dirangkai secara implisit. Dari pengamatan awal, Soulframe justru ingin mengambil jarak dari formula itu. Tempo pertarungan memang menekan pemain agar berpikir, tetapi tidak memaksa setiap bentrokan terasa seperti ujian kelulusan.

Pertarungan Soulframe terasa lebih dekat ke duel taktis ketimbang sekadar menghindar, memukul, lalu mengulang. Ada penekanan kuat pada guard, parry, juga penggunaan kemampuan unik dari roh pendamping. Musuh memang memberikan ancaman berarti, tetapi pola serangan mereka relatif terbaca. Tujuannya bukan semata menumbangkan pemain berkali-kali. Lebih kepada mendorong pemain mempelajari ritme gerak lawan, lalu mengeksekusi serangan balasan dengan tenang. Perbedaan filosofis tersebut membuat Soulframe punya rasa tersendiri.

Dari sudut pandang desain, Soulframe justru terasa seperti eksperimen jembatan antara dua kutub: aksi super cepat Warframe dan kehati-hatian ala Soulslike. Hasilnya berupa tempo menengah yang memberi ruang menikmati animasi, membaca lingkungan, juga memanfaatkan kerja sama tim. Bagi pemain yang takut dengan reputasi game Soulslike yang terkenal menghukum, Soulframe tampak lebih bersahabat namun tetap menuntut fokus. Ini bisa menjadi titik masuk ideal bagi mereka yang ingin merasakan intensitas pertarungan taktis, tanpa harus menelan frustrasi tingkat tinggi.

Identitas Soulframe: Di Antara Dua Dunia

Secara pribadi, saya melihat Soulframe sebagai eksperimen identitas yang cukup berani. Game ini jelas bukan Warframe versi pedang, tetapi juga tidak mau menjadi tiruan Dark Souls. Digital Extremes tampak ingin membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan dunia fantasi baru yang berdiri di atas kaki sendiri. Gabungan aksi taktis, hubungan dengan roh, tema alam melawan kerakusan industri, serta sentuhan kooperatif khas Warframe membuka banyak kemungkinan menarik. Soulframe masih jauh dari selesai, namun justru di fase awal seperti ini, kita bisa menyaksikan arah visi kreatifnya berkembang. Jika studio mampu menjaga keseimbangan antara kedalaman mekanik juga kenyamanan bermain, Soulframe berpotensi menjadi IP baru yang layak diikuti jangka panjang.

wefelltoearth

Share
Published by
wefelltoearth

Recent Posts

Game Baru Februari 2026: Mana Wajib Dibeli, Mana Cukup Wishlist?

wefelltoearth.com – Bulan rilis game baru Februari 2026 tampak seperti puncak kecil di awal tahun.…

14 jam ago

Berita Game Minggu Ini: Drama AI, Divinity Baru, Marathon Delay & Rilis 2025-2026

wefelltoearth.com – Berita game minggu ini terasa seperti roller coaster: ada drama, ambisi besar, penundaan…

22 jam ago

Cara Mengubah Transkrip YouTube Jadi Artikel Blog SEO-Friendly

wefelltoearth.com – Fenomena video online membuat banyak ide berharga terjebak hanya di format audiovisual. Sayangnya,…

2 hari ago

Panduan Praktis Ubah Video YouTube Jadi Artikel Blog SEO-Optimized

wefelltoearth.com – Ubah video YouTube jadi artikel bukan sekadar trik recast konten. Strategi ini mampu…

2 hari ago

The Altars Review Indonesia: Narasi, Pilihan Moral, dan Worth It?

wefelltoearth.com – The Altars review belakangan ini ramai dibahas, terutama oleh penggemar game naratif yang…

3 hari ago

Restrukturisasi Ubisoft: Dampak 5 Creative Houses ke Assassin’s Creed, Splinter Cell, dan Masa Depan AAA

wefelltoearth.com – Restrukturisasi Ubisoft mulai terasa seperti titik balik sejarah perusahaan, bukan sekadar kabar internal…

3 hari ago